Harta

Nasihat Shahabat untuk Orang Kaya Baru

Nasihat Shahabat untuk Orang Kaya Baru

Umumnya orang-orang kaya baru mengingat masa lalu mereka yang penuh derita sebagai nostalgia semata tanpa makna. Beberapa di antaranya malah berbangga diri karena merasa sukses dengan hasil kerja keras sendiri seraya melupakan faktor anugerah Allah ﷻ. Hidupnya pun kemudian naik kelas dan enggan menoleh kepada mereka yang kelasnya miskin. Mereka berkeyakinan bahwa orang-orang itu miskin karena enggan bekerja keras seperti mereka. Dunia bagi mereka adalah tempat akhir untuk menikmati hasil kerja keras, bukan tempat untuk terus bekerja keras guna menyongsong hari akhir.

Seorang shahabat senior bernama ‘Utbah ibn Ghazwan ra (40 SH-17 H) memberikan nasihat yang bernas untuk orang-orang kaya baru. Menurut para ulama tarikh, ‘Utbah ra adalah orang ketujuh yang masuk Islam di masa awal Islam. Ia memiliki keahlian dalam menembak dengan panah. Hampir semua peperangan pernah ia ikuti. Ia juga pernah ikut hijrah ke Habasyah pada periode Makkah. Di masa ‘Umar ibn al-Khaththab ra menjadi khalifah ia memimpin pasukan untuk membebaskan tanah Irak dari kekuasaan Persia bersama dengan shahabat Sa’ad ibn Abi Waqqash ra. Setelah berhasil membebaskan Irak, ia diangkat oleh ‘Umar ra sebagai salah satu pejabat yang berkuasa di Bashrah. Sebagai seorang pejabat baru dan menghadapi masyarakat yang berstatus sebagai orang-orang kaya baru, ‘Utbah ra pernah menyampaikan satu pidato nasihat yang bernas dan masih tetap relevan sampai hari ini.

عَنْ خَالِدِ بْنِ عُمَيْرٍ الْعَدَوِىِّ قَالَ خَطَبَنَا عُتْبَةُ بْنُ غَزْوَانَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ أَمَّا بَعْدُ

Dari Khalid ibn ‘Umair al-‘Adawi, ia berkata: ‘Utbah ibn Ghazwan ra berkhutbah kepada kami. Ia memuji Allah dan menyanjungnya, kemudian berkata: “Amma ba’du, …”

فَإِنَّ الدُّنْيَا قَدْ آذَنَتْ بِصُرْمٍ وَوَلَّتْ حَذَّاءَ وَلَمْ يَبْقَ مِنْهَا إِلاَّ صُبَابَةٌ كَصُبَابَةِ الإِنَاءِ يَتَصَابُّهَا صَاحِبُهَا وَإِنَّكُمْ مُنْتَقِلُونَ مِنْهَا إِلَى دَارٍ لاَ زَوَالَ لَهَا فَانْتَقِلُوا بِخَيْرِ مَا بِحَضْرَتِكُمْ

“… sungguh dunia sudah mengumumkan bahwa ia akan musnah dan pergi dengan cepat. Tidak akan tersisa darinya kecuali setetes air yang tersisa di wadah dan dihirup oleh pemiliknya. Sungguh kalian akan berpindah darinya ke negeri yang tiada akhir. Maka pindahlah kalian dengan bekal terbaik yang dimiliki kalian saat ini…”

فَإِنَّهُ قَدْ ذُكِرَ لَنَا أَنَّ الْحَجَرَ يُلْقَى مِنْ شَفَةِ جَهَنَّمَ فَيَهْوِى فِيهَا سَبْعِينَ عَامًا لاَ يُدْرِكُ لَهَا قَعْرًا وَوَاللَّهِ لَتُمْلأَنَّ أَفَعَجِبْتُمْ

“… sungguh telah diberitahukan kepada kita (oleh Nabi saw) bahwasanya satu batu yang dijatuhkan dari bibir Jahannam akan turun ke dalamnya selama 70 tahun. Tidak akan sampai ke dasarnya (sebelum itu). Dan sungguh demi Allah, kalian akan dimasukkan sampai penuh ke dalamnya. Tidakkah kalian terkejut…”

وَلَقَدْ ذُكِرَ لَنَا أَنَّ مَا بَيْنَ مِصْرَاعَيْنِ مِنْ مَصَارِيعِ الْجَنَّةِ مَسِيرَةُ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَلَيَأْتِيَنَّ عَلَيْهَا يَوْمٌ وَهُوَ كَظِيظٌ مِنَ الزِّحَامِ

“… dan sungguh telah diberitahukan kepada kita (oleh Nabi saw) bahwasanya di antara dua daun pintu surga sejauh perjalanan 40 tahun (mengendarai unta). Dan sungguh akan datang satu hari yang sangat genting karena berdesak-desakkan ingin memasukinya…”

وَلَقَدْ رَأَيْتُنِى سَابِعَ سَبْعَةٍ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مَا لَنَا طَعَامٌ إِلاَّ وَرَقُ الشَّجَرِ حَتَّى قَرِحَتْ أَشْدَاقُنَا فَالْتَقَطْتُ بُرْدَةً فَشَقَقْتُهَا بَيْنِى وَبَيْنَ سَعْدِ بْنِ مَالِكٍ فَاتَّزَرْتُ بِنِصْفِهَا وَاتَّزَرَ سَعْدٌ بِنِصْفِهَا

“… dan sungguh aku dahulu mengalami bersama tujuh orang termasuk Rasulullah saw di mana kami tidak memiliki makanan kecuali daun pepohonan, hingga terluka bagian pinggir mulut kami. Aku juga dahulu pernah memiliki satu helai kain lalu aku bagi dua untukku dan Sa’ad ibn Malik. Aku pakai setengahnya dan Sa’ad pun memakai setengahnya lagi…”

فَمَا أَصْبَحَ الْيَوْمَ مِنَّا أَحَدٌ إِلاَّ أَصْبَحَ أَمِيرًا عَلَى مِصْرٍ مِنَ الأَمْصَارِ وَإِنِّى أَعُوذُ بِاللَّهِ أَنْ أَكُونَ فِى نَفْسِى عَظِيمًا وَعِنْدَ اللَّهِ صَغِيرًا وَإِنَّهَا لَمْ تَكُنْ نُبُوَّةٌ قَطُّ إِلاَّ تَنَاسَخَتْ حَتَّى يَكُونَ آخِرُ عَاقِبَتِهَا مُلْكًا فَسَتَخْبُرُونَ وَتُجَرِّبُونَ الأُمَرَاءَ بَعْدَنَا

“… maka tidak ada hari ini seorang pun dari kita kecuali menjadi seorang pejabat di salah satu wilayah negeri. Sungguh aku berlindung kepada Allah dari merasa tinggi dalam diriku padahal di sisi Allah sangat hina. Sungguh tidak ada kenabian satu pun kecuali saling bergantian menang dan kalah hingga akhir urusannya berkuasa. Kalian akan mengetahui dan menguji para pejabat sesudah kami.” (Shahih Muslim kitab az-zuhd war-raqa`iq no. 7625)

Nasihat ‘Utbah ibn Ghazwan ra di atas intinya mengingatkan tiga hal: Pertama, jabatan dan kekayaan yang dimiliki jangan menjadikan diri sombong, meski sebatas dalam hati karena merasa hasil kerja keras sendiri, sebab itu adalah satu kehinaan di sisi Allah swt. Qarun dan orang-orang kaya sebelumnya dibinasakan Allah swt karena berani berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya dan lebih banyak mengumpulkan harta? (QS. al-Qashash [28] : 78). Karakter seperti Qarun ini memang karakter yang mendarah daging pada hampir setiap orang kaya.

فَإِذَا مَسَّ ٱلۡإِنسَٰنَ ضُرّٞ دَعَانَا ثُمَّ إِذَا خَوَّلۡنَٰهُ نِعۡمَةٗ مِّنَّا قَالَ إِنَّمَآ أُوتِيتُهُۥ عَلَىٰ عِلۡمِۢۚ بَلۡ هِيَ فِتۡنَةٞ وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ  ٤٩

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku“. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui (QS. az-Zumar [39] : 49).

Semua harta dan tahta yang dimiliki benar-benar ujian apakah seseorang akan mengakuinya sebagai anugerah Allah swt (syukur [arti asal syukur itu mengakui]) ataukah diakui sebagai hasil kerja kerasnya semata. Seyogianya semua orang kaya dan pejabat berkata seperti Nabi Sulaiman as:

هَٰذَا مِن فَضۡلِ رَبِّي لِيَبۡلُوَنِيٓ ءَأَشۡكُرُ أَمۡ أَكۡفُرُۖ …  ٤٠

“Ini termasuk karunia Rabbku untuk menguji aku apakah aku bersyukur (mengakui nikmat-Nya) atau mengingkari (akan nikmat-Nya).” (QS. an-Naml [27] : 40)

Kedua, jika ketika susah mampu bersabar berjuang dan mengingat Allah swt, maka ketika kaya dan menjabat jangan sampai lupa syukur. Bani Israil adalah contoh buruknya. Ketika dijajah oleh Fir’aun mereka mampu bersabar dan berhasil (QS. al-A’raf [7] : 128, 137), tetapi ketika sudah merdeka malah kufur nikmat; memilih syirik dan enggan berjihad (QS. al-A’raf [7] : 138; al-Ma`idah [5] : 24). Dalam hal ini terkenal peringatan dari Nabi Musa as:

وَإِذۡ تَأَذَّنَ رَبُّكُمۡ لَئِن شَكَرۡتُمۡ لَأَزِيدَنَّكُمۡۖ وَلَئِن كَفَرۡتُمۡ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٞ  ٧

Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14] : 7)

Ketiga, kesenangan dunia yang diraih bukan puncak kesuksesan hidup, sebab hidup di dunia bukan akhir kehidupan; hidup di dunia hanya sebentar dan akan segera berlalu untuk berpindah ke negeri abadi. Seyogianya semua yang dimiliki di dunia dijadikan bekal untuk kehidupan abadi kelak.

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ  ٢٠

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu (QS. al-Hadid [57] : 20).

Maka dari itu, meski Nabi saw mendapatkan harta berlimpah dari harta rampasan perang, mayoritasnya Nabi saw tabungkan untuk kehidupan akhirat. Di dunia tetap hidup sesederhana mungkin. Shahabat ‘Abdullah ibn Mas’ud menceritakan:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: اضْطَجَعَ النَّبِيُّ ﷺ عَلَى حَصِيرٍ فَأَثَّرَ فِي جِلْدِهِ فَقُلْتُ: بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ، لَوْ كُنْتَ آذَنْتَنَا فَفَرَشْنَا لَكَ عَلَيْهِ شَيْئًا يَقِيكَ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : مَا أَنَا وَالدُّنْيَا, إِنَّمَا أَنَا وَالدُّنْيَا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا

Dari ‘Abdullah ibn Mas’ud, ia berkata: Nabi saw berbaring di atas tikar sampai membekas pada kulitnya. Aku pun berkata: “Dengan ayah dan ibuku sebagai tebusan untukmu wahai Rasulullah, jika anda mengizinkan, kami akan memberikan hamparan yang bisa melindungimu.” Rasulullah saw menjawab: “Apalah artinya dunia untukku, sungguh aku dan dunia ini ibarat seorang pengendara yang beristirahat sejenak di bawah pohon kemudian ia pergi lagi.” (Sunan Ibn Majah kitab az-zuhd bab matsalid-dunya no. 4109; Sunan at-Tirmidzi kitab az-zuhd bab akhdzil-mal no. 2377; Musnad Ahmad bab hadits ‘Abdullah ibn Mas’ud no. 3709)

Wal-‘Llahul-Musta’an

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Check Also
Close
Back to top button