Dakwah Lahan Kerja Utama

Dakwah Lahan Kerja Utama
Dakwah sebagai lahan kerja bisa bermakna positif atau negatif. Positif jika niatnya mulia; mengabdikan hidup sepenuhnya di dunia dakwah. Dunia kerja di luar dakwah hanya sampingan saja, bahkan itu pun tetap dijadikan lahan dakwah. Negatif jika niatnya malah mencari hidup di dunia dakwah. Dakwah bukan jadi ajang pengabdian, malah jadi lahan mata pencaharian. Dakwah bukan meninggikan kalimah Allah, malah meninggikan rating juru dakwah. Dakwah bukan berkorban harta hingga nyawa, malah jadi lahan menumpuk harta untuk menyambung nyawa.
Hal yang salah kaprah dalam dunia pendidikan hari ini, khususnya pendidikan Islam, mengarahkan peserta didiknya untuk sukses di dunia kerja dengan meninggalkan dunia dakwah. Menjadi sesuatu yang dibanggakan oleh sekolah Islam jika alumninya sukses di dunia kerja yang salah satu indikatornya diterima di Perguruan Tinggi Negeri. Akibatnya dunia dakwah nyaris tidak pernah terisi oleh tenaga-tenaga profesional karena mereka lebih memilih untuk berprofesi di dunia kerja.
Padahal seharusnya peserta didik diajarkan bahwa kewajiban utama manusia itu dakwah, bukan kerja. Maka pekerjaan seorang muslim itu harus dakwah, bukan kerja non-dakwah. Lulus dari sekolah Islam itu harus tertanam dalam paradigma setiap lulusannya bahwa mereka harus menjadi aktivis-aktivis dakwah. Kerja non-dakwah itu hanya sebagai sampingan saja untuk menyempurnakan jalan rizki. Bahkan dengan visi dakwah yang kuat, dunia kerja pun akan dijadikan dunia dakwah.
Fenomena masyarakat yang mengabaikan dakwah karena sibuk dengan dunia kerja adalah wujud kegagalan pendidikan Islam. Padahal al-Qur`an sangat tegas menyebut fenomena tersebut sebagai identitas utama dari orang-orang munafiq. Jika tidak ada kemunafiqan dalam diri seharusnya dunia kerja tidak diprioritaskan daripada dunia dakwah; dunia kerja justru menjadi penunjang terhadap dunia dakwah atau malah menjadi bagian dari dunia dakwah itu sendiri.
Orang-orang munafiq diidentikkan oleh Allah swt dalam surat at-Taubah sebagai orang-orang yang profesional mengurus harta dan keluarga dalam konteks duniawi, bukan dalam konteks dakwah. Maka dari itu dalam surat al-Munafiqun, umat Islam diingatkan untuk tidak menjadi seperti orang-orang munafiq yang saking profesionalnya mengurus harta dan keluarga hingga lalai dari dzikrul-‘Llah.
فَلَا تُعۡجِبۡكَ أَمۡوَٰلُهُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُهُمۡۚ إِنَّمَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَتَزۡهَقَ أَنفُسُهُمۡ وَهُمۡ كَٰفِرُونَ ٥٥
Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir (QS. at-Taubah [9] : 55 dan yang semisal dalam ayat 85).
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ ٩
Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi (QS. al-Munafiqun [63] : 9).
Jika kesadaran dunia dakwah adalah dunia yang wajib digeluti oleh setiap muslim, maka lulusan-lulusan pendidikan Islam pasti akan berlomba-lomba untuk berpartisipasi dalam dunia dakwah. Dunia dakwah pun akan diisi oleh orang-orang yang profesional. Dunia dakwah yang cakupannya sangat luas dan urgen bagi kehidupan manusia memang harus diisi oleh tenaga-tenaga profesional, bukan tenaga paruh waktu, agar perannya dan kemanfaatannya dirasakan lebih luas oleh seluruh lapisan masyarakat. Dunia dakwah cakupannya sangat luas seluas urusan hidup manusia itu sendiri. Sebut misalnya pendidikan, penyiaran, penerbitan, ekonomi, sosial, politik, layanan ibadah dan kemasyarakatan lainnya. Hari ini dunia dakwah di beberapa daerah seakan-akan la yamutu fiha wa la yahya; tidak bermutu dan tidak berdaya; mati tidak hidup pun bukan; karena memang tidak dijadikan lahan kerja oleh tenaga-tenaga profesional.
Persoalan apakah berhak menerima upah dari dunia dakwah, para ulama sepakat menyatakan halal, bahkan itu upah yang paling utama. Nabi saw sendiri mengajarkan:
إِنَّ أَحَقَّ مَا أَخَذْتُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا كِتَابُ اللَّهِ
Sungguh upah yang paling berhak kamu ambil adalah dari (mengajarkan) kitab Allah (Shahih al-Bukhari bab as-syarth fir-ruqyah no. 5737).
إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي
Sesungguhnya Allah menjadikan rizkiku di bawah bayang-bayang tombakku ([Riwayat Ahmad dengan status dla’if, tetapi dikuatkan oleh hadits mursal yang sanadnya hasan dalam riwayat Ibn Abi Syaibah. Fathul-Bari bab wa man yatawakkal ‘alal-‘Llah fa huwa hasbuhu]).
Maksudnya rizki Nabi saw ada dalam ghanimah dari jihad. Penghasilan utama beliau ada dalam jihad menaklukkan musuh-musuh Allah swt dan meraih ghanimah dari mereka. Jadi Nabi saw juga bekerja untuk keluarganya dan pekerjaan utama Nabi saw adalah jihad fi sabilillah. Al-Hafizh Ibn Hajar mengategorikan jihad fi sabilillah ini sebagai profesi paling mulia untuk dijadikan mata pencaharian melebihi kemuliaan berdagang, bertani, atau keahlian profesi, karena dengan jihad semakin nyata keunggulan Islam dan kemaslahatan umat yang tidak terlalu nyata dengan berdagang, bertani, atau keahlian profesi selain jihad (Fathul-Bari bab kasbir-rajul wa ‘amalihi bi yadihi). Dalam konteks wilayah yang bukan wilayah perang, jihad itu adalah dakwah, karena tujuannya sama-sama meninggikan kalimah Allah swt.
Penjelasan al-Hafizh Ibn Hajar di atas juga mengindikasikan adanya profesi lain sejak zaman Nabi saw di luar jihad/dakwah. Akan tetapi sebagaimana diajarkan al-Qur`an, itu semua hanya pekerjaan sampingan. Pekerjaan utamanya tetap harus amal mengejar akhirat melalui jihad/dakwah. Ketika panggilan jihad/dakwah datang dan akan selalu datang, maka semua pekerjaan profesi lainnya harus siap ditinggalkan. Sebagaimana halnya Nabi saw yang berternak dan mengelola lahan perkebunan, tetap saja penghasilan rizki utama beliau dari jihad/dakwah.
Akan tetapi niat mulia mengabdi di dunia dakwah secara profesional tersebut jangan ternodai oleh niat kotor mencari hidup dalam dakwah. Yang seharusnya menghidupkan dakwah dengan pengorbanan, malah mengorbankan dakwah untuk kehidupan pribadi. Jika niat duniawi sudah masuk dalam dunia jihad/dakwah maka jihad/dakwah tidak akan pernah menjadi mulia, malah akan selalu hina karena rusak oleh nafsu-nafsu busuk duniawi; hanya akan serius bekerja kalau menguntungkan secara pribadi, jika tidak menguntungkan maka tidak akan serius bekerja. Padahal inti dakwah itu adalah pengorbanan. Berkorban untuk Allah swt maka Allah swt pun akan membantu mereka yang berkorban untuk-Nya. Bukan menuntut terlebih dahulu apa keuntungan duniawi yang akan diperoleh oleh pribadi. Maka dari itu para Nabi saw dalam dakwahnya selalu menekankan:
وَمَآ أَسۡأَلُكُمۡ عَلَيۡهِ مِنۡ أَجۡرٍۖ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَىٰ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٠٩
Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam (QS. as-Syu’ara` [26] : 109, 127, 145, 164, 180).
Mereka yang selalu bergantung pada upah duniawi dalam dakwah, lagi-lagi disebutkan al-Qur`an sebagai orang-orang munafiq.
وَإِنَّ مِنكُمۡ لَمَن لَّيُبَطِّئَنَّ فَإِنۡ أَصَٰبَتۡكُم مُّصِيبَةٞ قَالَ قَدۡ أَنۡعَمَ ٱللَّهُ عَلَيَّ إِذۡ لَمۡ أَكُن مَّعَهُمۡ شَهِيدٗا ٧٢ وَلَئِنۡ أَصَٰبَكُمۡ فَضۡلٞ مِّنَ ٱللَّهِ لَيَقُولَنَّ كَأَن لَّمۡ تَكُنۢ بَيۡنَكُمۡ وَبَيۡنَهُۥ مَوَدَّةٞ يَٰلَيۡتَنِي كُنتُ مَعَهُمۡ فَأَفُوزَ فَوۡزًا عَظِيمٗا ٧٣
Dan sesungguhnya di antara kamu ada orang yang sangat berlambat-lambat (ke medan pertempuran). Maka jika kamu ditimpa musibah ia berkata: “Sesungguhnya Tuhan telah menganugerahkan nikmat kepada saya karena saya tidak ikut berperang bersama mereka.” Dan sungguh jika kamu beroleh karunia (kemenangan) dari Allah, tentulah dia mengatakan seolah-olah belum pernah ada hubungan kasih sayang antara kamu dengan dia: “Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)” (QS. an-Nisa` [4] : 72-73).
سَيَقُولُ لَكَ ٱلۡمُخَلَّفُونَ مِنَ ٱلۡأَعۡرَابِ شَغَلَتۡنَآ أَمۡوَٰلُنَا وَأَهۡلُونَا فَٱسۡتَغۡفِرۡ لَنَاۚ يَقُولُونَ بِأَلۡسِنَتِهِم مَّا لَيۡسَ فِي قُلُوبِهِمۡۚ … ١١
Orang-orang Badwi yang tertinggal (tidak turut ke Hudaibiyah) akan mengatakan: “Harta dan keluarga kami telah merintangi kami, maka mohonkanlah ampunan untuk kami“; mereka mengucapkan dengan lidahnya apa yang tidak ada dalam hatinya… (QS. al-Fath [48] : 11).
سَيَقُولُ ٱلۡمُخَلَّفُونَ إِذَا ٱنطَلَقۡتُمۡ إِلَىٰ مَغَانِمَ لِتَأۡخُذُوهَا ذَرُونَا نَتَّبِعۡكُمۡۖ يُرِيدُونَ أَن يُبَدِّلُواْ كَلَٰمَ ٱللَّهِۚ قُل لَّن تَتَّبِعُونَا كَذَٰلِكُمۡ قَالَ ٱللَّهُ مِن قَبۡلُۖ فَسَيَقُولُونَ بَلۡ تَحۡسُدُونَنَاۚ بَلۡ كَانُواْ لَا يَفۡقَهُونَ إِلَّا قَلِيلٗا ١٥
Orang-orang Badwi yang tertinggal itu akan berkata apabila kamu berangkat untuk mengambil barang rampasan: “Biarkanlah kami, niscaya kami mengikuti kamu”; mereka hendak mengubah janji Allah. Katakanlah: “Kamu sekali-kali tidak (boleh) mengikuti kami; demikian Allah telah menetapkan sebelumnya”; mereka akan mengatakan: “Sebenarnya kamu dengki kepada kami“. Bahkan mereka tidak mengerti melainkan sedikit sekali (QS. al-Fath [48] : 11).
Dalam hadits yang terkenal, Rasul saw sering mengingatkan: Innamal-a’mal bin-niyyat. Beliau kemudian mencontohkan dengan hijrah yang tidak semuanya mendapatkan pahala karena niat mengikuti Allah dan Rasul-Nya, melainkan ada juga yang hanya mendapatkan siksa dan sedikit hiburan duniawi karena niatnya hanya untuk memperoleh dunia dan wanita.
Dakwah harus dijadikan lahan kerja utama oleh setiap muslim. Kerja profesi lainnya hanya sebagai sampingan saja. Tetapi jangan sampai meminggirkan nilai-nilai pengorbanan dalam dakwah karena salah niat hanya untuk meraih ketenaran diri dan memupuk kekayaan duniawi.
Wal-‘Llahul-Muwaffiq.

