Tips Menyuruh Anak Shalat

Pertama, sadari terlebih dahulu oleh ayah dan ibu–oleh kedua-duanya, bukan ayah saja atau ibu saja–bahwa menyuruh anak shalat adalah kewajiban syari’at untuk orangtua. Kewajiban tersebut mencakup shalat lima waktu. Bahkan Nabi saw dan para shahabat mengamalkan juga untuk shalat malam/tahajjud. Lebih ditekankan lagi shalat shubuh dan isya dimana Nabi saw menyebut dalam hadits pembeda mu’min dan munafiq itu dari kedisiplinan shalat shubuh dan isya.
Kedua, orangtua juga harus menyadari bahwa abai dari kewajiban menyuruh shalat ini berarti sama dengan telah merelakan diri menjadi hamba sahaya bagi anak-anaknya, yang itu adalah di antara penyimpangan akhlaq menjelang hari kiamat. Jika sadar sepenuhnya menginginkan anak menjadi shalih dan orangtua tidak mau dijadikan “pembantu” oleh anak-anaknya maka bulatkan keberanian untuk menyuruh anak shalat.
Ketiga, ciri khas pendidikan Islam itu adalah uswah hasanah. Dan itu adalah kunci kewibawaan seorang pendidik. Maka orangtua harus memaksakan diri menjadi pendidik dan uswah hasanah (teladan yang baik) untuk anak-anaknya terutama dalam hal shalat. Jadilah pribadi yang disiplin dalam shalat. Jangan pernah lagi menjadi orang yang selalu terlambat dalam waktu shalat. Atau bahkan shalat jauh dari awal waktunya. Khusus untuk ayah paksakan diri untuk selalu shalat berjama’ah di masjid. Ingatlah bahwa shalat itu wajib hafizhu/yuhafizhun (dijaga dengan baik waktu, rukun, dan syaratnya). Mengabaikan hal ini berarti sudah sahun (lalai) atau kusala (pemalas) dalam shalat yang itu adalah ciri orang munafiq; orang yang tidak pernah lurus antara perkataan dan perbuatannya. Siapa pun tidak akan menganggap pendidik kepada orang yang tidak lurus antara perkataan dan perbuatannya. Maka mustahil menyuruh anak shalat berhasil jika perbuatan diri sendiri masih lalai dari shalat.
Keempat, luangkan waktu minimal 10 menit dari awal waktu shalat untuk menjalankan syari’at menyuruh anak shalat, terutama shalat shubuh. Meluangkan waktu ini penting karena anak susah dibangunkan, sedang asyik bermain, atau sedang bermain jauh dari rumah sehingga harus dicari dahulu, dan sebagainya. Agar anak bisa shalat tepat waktu dan orangtua pun tidak terlambat shalat akibat menyuruh anaknya shalat. Kebanyakan orangtua gagal dalam menyuruh shalat karena mereka tidak punya waktu khusus untuk itu. Mereka sendiri sering terlambat melaksanakan shalatnya, jadinya waktu untuk menyuruh anak shalat pun tidak pernah ada.
Kelima, metode menyuruh anak shalat itu antara dua; pendekatan ketegasan atau pendekatan kelembutan. Silahkan bisa dipilih metode yang mana pun sesuai karakter bawaan orangtua dan atau situasi kondisi. Yang jelas kedua-duanya memerlukan waktu khusus untuk menjalankannya dan perlu kesabaran yang kuat untuk menjalankannya. Maka dari itu, dalam Q.S. Thaha [20] : 132 Allah swt menjadikan sabar ini sebagai prasyarat bisa memerintah shalat. Sabar yang dimaksud termasuk sabar dalam mencoba berbagai metode dan tidak pernah menyerah. Menyerah kepada anak berarti secara sadar meninggalkan tuntunan syari’at menyuruh anak shalat.
Keenam, jika di awal waktu tidak cukup waktu membangunkan anak untuk shalat atau untuk mencari anak yang sedang bermain, maka selepas shalat bangunkan lagi anak atau cari lagi anak yang sedang bermain. Beranikan untuk menegur atau bahkan memarahi tapi tidak dengan kekerasan fisik dan lisan (menghina/berkata kotor). Ini juga bagian dari menyuruh anak shalat.
Ketujuh, ayah dan ibu harus kompak menyuruh anak shalat. Jika ayah dan ibu bekerja, bisa telepon ke rumah atau ke anak, atau ketika pulang kerja sore menginterogasi anak shalat di mana, jam berapa? Jika ada kelalaian dari anak harus berani menegur dan mengingatkan untuk tidak mengulangi. Keberanian menegur ini menjadi penanaman nilai pada jiwa anak bahwa ia memang wajib shalat dengan disiplin. Sekali-kali boleh dihukum dengan ditahan uang jajannya dan semacamnya yang tidak bersifat kekerasan.
Kedelapan, jangan jadikan “anak saya susah disuruh beda dengan yang lain” sebagai alasan. Para ulama menjelaskan, adanya perintah untuk orangtua menyuruh shalat karena pastinya shalat susah diamalkan oleh anak, tidak seperti halnya bermain. Artinya jika orangtua merasa susah, memang pasti susah dan tidak akan pernah mudah. Masalahnya apakah orangtua akan menyerah atau akan terus bersabar menyuruh shalat. Kami sekeluarga besar dari ayah-ibu kami juga tidak pernah merasa mudah untuk membangunkan anak shalat shubuh, atau mencari anak-anak yang sedang bermain di waktu siang dan sore. Apalagi anak-anak kami semuanya laki-laki. Membangunkan tiga orang anak lelaki di waktu shubuh dan mencari mereka yang sedang bermain entah di mana pada siang-sore hari bukan pekerjaan mudah. Tetapi dijalani dengan nikmat saja karena yakin bahwa ini tuntunan syari’at untuk kebahagiaan keluarga itu sendiri.