Shaum Sunat Orang-orang Shalih II

Bagian Kedua 

Syaikh Sayyid ibn Husain ibn Abdillah al-Affani dalam kitabnya, Nida`ur-Rayyan, menuliskan satu bab khusus: sadatus-sha`imin; sayyid-sayyid/tokoh-tokoh teladan ahli shaum. Dari pemaparan atsar-atsar yang disajikannya terungkap bahwa orang-orang shalih shaumnya tidak hanya di bulan Ramadlan saja, melainkan berlanjut terus sepanjang tahun dipenuhi dengan shaum-shaum sunat.

Shahabat Abu Umamah al-Bahili ra menceritakan:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ  قَالَ: أَنْشَأَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ جَيْشًا، فَأَتَيْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ادْعُ اللَّهَ لِي بِالشَّهَادَةِ، قَالَ: «اللَّهُمَّ سَلِّمْهُمْ وَغَنِّمْهُمْ»، فَغَزَوْنَا فَسَلِمْنَا وَغَنِمْنَا، حَتَّى ذَكَرَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، قَالَ: ثُمَّ أَتَيْتُهُ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي أَتَيْتُكَ تَتْرَى ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، أَسْأَلُكَ أَنْ تَدْعُوَ لِي بِالشَّهَادَةِ، فَقُلْتَ: «اللَّهُمَّ سَلِّمْهُمْ وَغَنِّمْهُمْ» فَسَلِمْنَا وَغَنِمْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَمُرْنِي بِعَمَلٍ أَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ، فَقَالَ:  «عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا مِثْلَ لَهُ»، قَالَ: فَكَانَ أَبُو أُمَامَةَ لَا يُرَى فِي بَيْتِهِ الدُّخَانُ نَهَارًا إِلَّا إِذَا نَزَلَ بِهِمْ ضَيْفٌ، فَإِذَا رَأَوَا الدُّخَانَ نَهَارًا عَرَفُوا أَنَّهُ قَدِ اعْتَرَاهُمْ ضَيْفٌ

Dari Abu Umamah ra ia berkata: Rasulullah saw menyiapkan satu pasukan, lalu aku mendatanginya dan berkata: “Wahai Rasulullah, do’akanlah untukku agar mati syahid.” Tetapi beliau malah berdo’a: “Ya Allah, selamatkanlah mereka dan berilah mereka ghanimah.” Kami lalu berangkat perang dan ternyata benar kami selamat dan memperoleh ghanimah. Abu Umamah sampai melakukan hal yang sama tiga kali. Kemudian aku mendatangi beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku sudah datang kepada anda tiga kali berturut-turut meohon agar dido’akan mati syahid untukku tetapi anda selalu mendo’akan: ‘Ya Allah, selamatkanlah mereka dan berilah mereka ghanimah’ sehingga kami pun selalu selamat dan memperoleh ghanimah. Wahai Rasulullah perintahkanlah kepadaku satu amal istimewa yang bisa menjamin aku masuk surga.” Beliau menjawab: “Amalkan olehmu shaum sebab shaum itu tidak ada bandingannya.” Maka Abu Umamah tidak pernah terlihat ada asap api dari rumahnya di siang hari kecuali jika sedang ada tamu. Maka jika tetangganya melihat ada asap api dari rumahnya pada siang hari mereka tahu berarti sedang ada tamu yang sedang dijamu (Shahih Ibn Hibban bab dzikrul-bayan bi annas-shaum la ya’diluhu syai` minat-tha’at no. 3425).

Imam al-Bukhari meriwayatkan hadits Abu Juhaifah ra sebagai berikut:

عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ آخَى النَّبِيُّ ﷺ بَيْنَ سَلْمَانَ وَأَبِي الدَّرْدَاءِ فَزَارَ سَلْمَانُ أَبَا الدَّرْدَاءِ فَرَأَى أُمَّ الدَّرْدَاءِ مُتَبَذِّلَةً فَقَالَ لَهَا مَا شَأْنُكِ قَالَتْ أَخُوكَ أَبُو الدَّرْدَاءِ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ فِي الدُّنْيَا فَجَاءَ أَبُو الدَّرْدَاءِ فَصَنَعَ لَهُ طَعَامًا فَقَالَ كُلْ قَالَ فَإِنِّي صَائِمٌ قَالَ مَا أَنَا بِآكِلٍ حَتَّى تَأْكُلَ قَالَ فَأَكَلَ فَلَمَّا كَانَ اللَّيْلُ ذَهَبَ أَبُو الدَّرْدَاءِ يَقُومُ قَالَ نَمْ فَنَامَ ثُمَّ ذَهَبَ يَقُومُ فَقَالَ نَمْ فَلَمَّا كَانَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ قَالَ سَلْمَانُ قُمْ الْآنَ فَصَلَّيَا فَقَالَ لَهُ سَلْمَانُ إِنَّ لِرَبِّكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ فَأَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ صَدَقَ سَلْمَان

Dari Abu Juhaifah, ia berkata: Nabi saw memuakhatkan Salman dan Abud-Darda`. Pada suatu hari Salman bertamu kepada Abud-Darda` dan ia melihat istrinya tidak berdandan. Ia bertanya: “Kenapa kamu begini?” Ia menjawab: “Saudaramu Abud-Darda` tidak butuh dunia.” Tidak lama Abud-Darda` datang membawa makanan dan berkata: “Silahkan makan, saya sedang shaum.” Salman menjawab: “Saya tidak akan makan sampai kamu juga ikut makan.” Abud-Darda` pun kemudian berbuka. Ketika malam tiba, Abud-Darda` shalat malam. Salman berkata: “Tidur dulu.” Ia pun tidur. Tidak lama ia bangun dan hendak shalat malam. Salman berkata: “Tidur dulu.” Ia pun tidur. Di akhir malam, Salman membangunkan Abud-Darda`: “Shalatlah sekarang.” Mereka berdua kemudian shalat. Salman menjelaskan: “Sungguh Rabbmu mempunyai hak yang harus kamu tunaikan. Dirimu punya hak yang harus kamu tunaikan. Istrimu punya hak yang harus kamu tunaikan. Tunaikanlah hak kepada setiap yang berhaknya.” Abud-Darda` kemudian datang kepada Nabi saw dan menceritakan apa yang dikatakan Salman. Tetapi beliau menjawab: “Salman benar.” (Shahih al-Bukhari bab man aqsama ‘ala akhihi li yufthira no. 1968).

Nabi saw membenarkan Salman yang memaksa Abud-Darda` untuk buka shaum karena sebagaimana dijelaskan Salman, Abud-Darda` telah menelantarkan hak atas dirinya, istrinya, dan tamunya, sehingga ia menasihatinya untuk memenuhi hak masing-masingnya secara proporsional. Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya oleh al-Hafizh Ibn Hajar, bahwa shaum sunat setiap hari itu kedudukannya dikembalikan lagi kepada masing-masing orangnya. Jika mampu dan tidak akan menelantarkan hak, maka hukumnya mubah dan itu yang diamalkan oleh para shahabat yang mampu. Jika menelantarkan hak yang wajib, maka hukumnya makruh. Hadits di atas menunjukkan bahwa Abud-Darda` shaumnya sampai setiap hari. Ia dipaksa untuk tidak shaum jika menjamu tamu atau ada kepentingan keluarga.

Shahabat lainnya yang dikenal mengamalkan shaum sunat sampai setiap hari adalah ‘Abdullah ibnuz-Zubair, cucu Abu Bakar as-Shiddiq dari Asma` binti Abi Bakar dan az-Zubair ibnul-‘Awwam. Ketika ia dibunuh al-Hajjaj dan jasadnya digantung di batang pohon kurma di sebuah bukit Makkah, ‘Abdullah ibn ‘Umar ra melancarkan protes terbuka dengan menyampaikan pujian untuk ‘Abdullah ibnuz-Zubair di hadapan pasukan al-Hajjaj yang menjaga jenazahnya sebagai berikut:

السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَبَا خُبَيْبٍ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَبَا خُبَيْبٍ السَّلاَمُ عَلَيْكَ أَبَا خُبَيْبٍ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ كُنْتُ أَنْهَاكَ عَنْ هَذَا أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ كُنْتُ أَنْهَاكَ عَنْ هَذَا أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ كُنْتُ أَنْهَاكَ عَنْ هَذَا أَمَا وَاللَّهِ إِنْ كُنْتَ مَا عَلِمْتُ صَوَّامًا قَوَّامًا وَصُولاً لِلرَّحِمِ أَمَا وَاللَّهِ لأُمَّةٌ أَنْتَ أَشَرُّهَا لأُمَّةٌ خَيْرٌ

Keselamatan untukmu wahai Abu Khubaib. Keselamatan untukmu wahai Abu Khubaib. Keselamatan untukmu wahai Abu Khubaib. Sungguh demi Allah aku sudah melarang anda dari hal ini (melawan al-Hajjaj). Sungguh demi Allah aku sudah melarang anda dari hal ini. Sungguh demi Allah aku sudah melarang anda dari hal ini. Sungguh demi Allah sepanjang pengetahuanku anda ahli shaum, ahli shalat malam, dan menyambungkan hubungan rahim. Demi Allah, umat yang anda paling jeleknya sungguh umat terbaik (Shahih Muslim bab dzikr kadzdzab Tsaqif wa mubiriha no. 6660).

Kesaksian yang sama dikemukakan juga oleh ibunya sendiri, Asma` binti Abi Bakar ra sebagaimana dikutip oleh Imam adz-Dzahabi dalam kitabnya, Siyar A’lamin-Nubala`. Sementara itu Ibn Abi Mulaikah  menceritakan:

عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ: كَانَ ابْنُ الزُّبَيْرِ يُوَاصِلُ سَبْعَةَ أَيَّامٍ فَيُصْبِحُ يَوْمَ السَّابِعِ وَهُوَ أَلْيَثُنَا

Dari Ibn Abi Mulaikah ra, ia berkata: “Ibnuz-Zubair pernah shaum tujuh hari berturut-turut tetapi pada hari ketujuh ia adalah orang yang paling pemberani di antara kami.” (al-Mustadrak al-Hakim bab dzikr ‘Abdillah ibn az-Zubair no. 6334)

Shahabat Abud-Darda` ra meriwayatkan:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ  قَالَ خَرَجْنَا مَعَ النَّبِيِّ ﷺ فِي بَعْضِ أَسْفَارِهِ فِي يَوْمٍ حَارٍّ حَتَّى يَضَعَ الرَّجُلُ يَدَهُ عَلَى رَأْسِهِ مِنْ شِدَّةِ الْحَرِّ وَمَا فِينَا صَائِمٌ إِلَّا مَا كَانَ مِنْ النَّبِيِّ ﷺ وَابْنِ رَوَاحَةَ

Abud-Darda` ra berkata: “Kami pernah berangkat safar bersama Nabi saw dalam salah satu safar pada hari yang sangat panas hingga seseorang meletakkan tangannya di atas kepalanya saking tidak kuat menahan panas. Tidak ada seorang pun di antara kami yang shaum kecuali Nabi saw dan (‘Abdullah) ibn Rawahah.” (Shahih al-Bukhari bab idza shama ayyaman min Ramadlan tsumma safara no. 1945)

Hadits di atas menunjukkan bahwa ‘Abdullah ibn Rawahah ra sudah ahli shaum dan menyamai kekuatan shaum Nabi saw. Berarti ia sudah mampu shaum sebagaimana shaum Nabi saw yakni rutin setiap hari meski ada berbukanya di hari-hari tertentu dari setiap bulannya. Maka dari itu ia kuat tetap menjalani shaum meski sedang safar dan cuaca sedang sangat panas.

Dari kalangan tabi’in, Syaikh Sayyid al-‘Affani menyebutkan sejumlah nama yang shaum sunatnya hampir setiap hari disertai riwayat-riwayat yang menyebutkannya, umumnya dari kitab Hilyatul-Auliya, Shafwatus-Shafwah, dan Siyar A’lamin-Nubala`. Mereka di antaranya yang disebutkan oleh ‘Alqamah ibn Martsad, ulama generasi atba’ tabi’in yang tsiqah sebagai berikut:

عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ، قَالَ: انْتَهَى الزُّهْدُ إِلَى ثَمَانِيَةٍ: عَامِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ قَيْسٍ، وَأُوَيْسٍ الْقَرَنِيِّ، وَهَرَمِ بْنِ حَيَّانَ، وَالرَّبِيعِ بْنِ خُثَيْمٍ، وَمَسْرُوقِ بْنِ الْأَجْدَعِ، وَالْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ، وَأَبُو مُسْلِمٍ الْخَوْلَانِيِّ، وَالْحَسَنِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ

‘Alqamah ibn Martsad berkata: “Puncaknya zuhud itu ada pada delapan orang; ‘Amir ibn ‘Abdillah ibn ‘Abd Qais, Uwais al-Qarni, Haram ibn Hayyan, ar-Rabi’ ibn Khutsaim, Masruq ibn al-Ajda’, al-Aswad ibn Yazid, Abu Muslim al-Khaulani, dan al-Hasan ibn Abil-Hasan.” (Hilyatul-Auliya 2 : 87).

Berikutnya ada Sa’id ibn al-Musayyib yang mengamalkan shaum setiap hari sepanjang tahun. Demikian juga Abu Bakar ibn ‘Abdirrahman, ‘Urwah ibn az-Zubair, Sulaiman ibn Yasar, Manshur ibn al-Mu’tamir, Ibn Juraij.

Sementara ‘Atha` ibn Yasar mengamalkan shaum Dawud. Demikian halnya Ibrahim an-Nakha’i, Muhammad ibn Sirin, ‘Abdurrahman ibn al-Aswad, dan Sulaiman ibn Tharkhan. Adapun Imam al-Hasan al-Bashri merutinkan shaum senin kamis, tengah bulan, dan shaum bulan-bulan haram.

Ulama generasi berikutnya di antaranya Imam Ahmad ibn Hanbal (w. 241 H). Ibrahim ibn Hani menceritakan: “Beliau shaum setiap hari dan menyegerakan berbuka. Kemudian shalat setelah isya beberapa raka’at, lalu tidur sebentar, kemudian bangun dan bersuci, lalu shalat malam lagi sampai terbit fajar, dan lantas witir satu raka’at. Demikianlah rutinitasnya ketika ia tinggal di tempatku—setelah masa penyiksaan oleh Khalifah al-Ma`mun. Aku tidak pernah melihatnya absen satu malam pun dari ibadah dan aku sendiri tidak kuat ikut beribadah dengannya. Aku juga tidak pernah melihatnya tidak shaum selama tinggal di tempatku kecuali satu hari ketika ia berbekam.” (Manaqib al-Imam Ahmad, hlm. 359).

Dari kalangan para ulama generasi akhir di antaranya Imam an-Nawawi Yahya ibn Syaraf Muhyiddin Abu Zakariyya (631-676 H). Seorang ulama besar dari madzhab Syafi’i yang mensistematisasi fiqih madzhab Syafi’i melalui kitabnya, Minhajut-Thalibin wa ‘Umdatut-Thalibin, Syarah Shahih Muslim, dan al-Majmu’ Syarhul-Muhadzdzab. Imam adz-Dzahabi dalam Tadzkiratul-Huffazh mengutip sebuah riwayat:

قال شيخنا الرشيد بن المعلم: وكان يمنع من أكل الفواكه والخيار ويقول: أخاف أن يرطب جسمي ويجلب النوم، وكان يأكل في اليوم والليلة أكلة ويشرب شربة واحدة عند السحر

Syaikh kami, ar-Rasyid ibn al-Mu’allim, berkata: Beliau (Imam an-Nawawi melarang makan buah-buahan dan makanan-makanan yang lezat. Kata beliau: “Saya takut itu melembekkan badanku dan menjadikan tidur pulas.” Beliau makan dan minum dalam sehari semalam satu kali saja ketika sahur (Tadzkiratul-Huffazh 4 : 175).

Artinya Imam an-Nawawi selain mengamalkan shaum setiap hari beliau juga mengamalkan shaum wishal (menyambung shaum dari sahur sampai sahur lagi) yang mubah, sebagaimana Nabi saw sabdakan dalam salah satu haditsnya:

لَا تُوَاصِلُوا فَأَيُّكُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُوَاصِلَ فَلْيُوَاصِلْ حَتَّى السَّحَرِ

Kalian jangan shaum wishal. Siapa saja di antara kalian yang ingin wishal maka cukup wishal sampai waktu sahur (Hadits Abu Sa’id al-Khudri dalam Shahih al-Bukhari bab al-wishal no. 1963).

Tidak jauh beda dengan ulama besar berikutnya, al-Hafizh Ibn Hajar al-‘Asqalani (773-852 H/1372-1449 M). Sebagaimana dijelaskan langsung oleh muridnya, Imam as-Sakhawi (w. 902 H), dalam kitab biografi khusus Ibn Hajar, al-Jawahir wad-Durar fi Tarjamah Syaikhil-Islam Ibn Hajar:

وأما صومه، فكان رحمه اللَّه يسرُدُ الصَّوم أوَّلًا، ثم صار يصومُ يومًا ويفطِرُ يومًا، مع الحِرص على صوم تاسوعاء وعاشوراء، وعرَفَة وستَّة شوال، ويأكل وقت الفِطْرِ يسيرًا، ثُمَّ يتسحر بشيءٍ يسير كذلك قريب الفجر جدًا. وأظنُّه كما كان يقصِد في الصَّوم صومَ داود عليه السلام، كذلك كان يتحرَّى طريقته في الصَّلاة، ينام نصف الليل الأول، ويقوم ثُلُثَه، وينام سُدُسَه؛ لأنَّه ورد في الصَّحيح عَنْ نبيَّنا عليه أفضلُ الصَّلاة والسلام أنَّ ذلك أحبُّ الصلاة إلى اللَّه تعالى، كما صحَّ أنَّ صومه أحبُّ الصِّيام إلى اللَّه.

Adapun shaumnya, maka beliau rahimahul-‘Llah pada awalnya shaum setiap hari sepanjang tahun, kemudian di masa berikutnya beliau merutinkan shaum satu hari dan berbuka satu hari, di samping selalu bersemangat shaum tasu’a ‘asyura, ‘arafah, dan enam hari Syawwal. Beliau makan sedikit ketika berbuka, kemudian makan sahur pun sedikit juga pada waktu yang sangat dekat dari terbit fajar. Sepengetahuan saya, sebagaimana halnya beliau memilih jalan pertengahan dalam shaum dengan shaum Dawud as, demikian halnya beliau memilih jalan pertengahan dalam shalatnya. Beliau tidur setengah malam pertama, lalu shalat malam sepertiga malam, dan tidur di seperenam sisanya, karena ada diriwayatkan dalam kitab Shahih dari Nabi kita saw bahwasanya itu adalah shalat yang paling Allah cintai, sebagaimana shahih juga bahwa shaum Dawud itu adalah shaum yang paling Allah cintai (al-Jawahir wad-Durar 3 : 1044-1045).

Demikianlah akhlaq shaum orang-orang shalih yang layak diteladani atau minimalnya didekati oleh orang-orang yang ingin menjadi shalih seperti mereka. Wal-‘Llahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *