Rutinitas Berbagi Nabi ﷺ

Rutinitas Berbagi Nabi ﷺ

Kegiatan berbagi Nabi kepada umatnya ibarat angin lembut yang bertiup setiap saat. Kegiatan berbagi itu sudah menjadi rutinitas harian yang tidak pernah terlewatkan. Terutama kepada orang-orang miskin yang tinggal sementara di masjid atau Ahlus-Shuffah. Mereka umumnya para pendatang dari luar Madinah yang niatan utamanya untuk belajar Islam, bukan untuk bekerja mencari nafkah. Model Ahlus-Shuffah hari ini adalah para santri, mahasantri, asatidzah, dan orang-orang yang mengabdikan hidupnya di masjid, madrasah, atau pesantren.

Shahabat Ibn ‘Abbas ra menggambarkan kedermawanan Nabi saw lebih baik daripada angin lembut yang bertiup setiap waktu. Tentunya, sebagaimana dijelaskan al-Hafizh Ibn Hajar, penggambaran tersebut hanya semacam mubalaghah (ungkapan kiasan yang berlebihan) saking dahsyatnya kedermawanan Nabi saw melebihi siapapun yang dermawan (Fathul-Bari bab kana Jibril ya’ridlul-Qur`an ‘alan-Nabiy saw).

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُوْنُ فِي رَمَضَانَ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ وَكَانَ جِبْرِيْلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُوْلُ اللهِ حِيْنَ يَلْقَاهُ جِبْرِيْلُ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيْحِ الْمُرْسَلَةِ

Rasulullah saw itu orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadlan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya pada setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarasah al-Qur`an kepadanya. Dan sungguh Rasulullah saw itu ketika Jibril menemuinya lebih lembut lagi dalam hal kebaikan daripada angin lembut yang bertiup (Shahih al-Bukhari bab kaifa kana bad’u al-wahyi ila Rasulillah no. 6).

Dalam riwayat Ahmad terdapat penjelasan dari Ibn ‘Abbas ra sendiri mengapa ia menyebutkan Nabi saw lebih lembut daripada angin lembut yang bertiup.

وَهُوَ أَجْوَدُ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ لاَ يُسْئَلُ عَنْ شَيْءٍ إِلاَّ أَعْطَاهُ

Beliau orang yang lebih dermawan daripada angin lembut yang bertiup. Beliau tidak diminta dari sesuatu apapun kecuali akan memberinya (Musnad Ahmad musnad ‘Abdullah ibn ‘Abbas no. 2042).

Kesiapan memberi Nabi saw disebutkan dalam hadits Abu Sa’id ra sampai berani menghabiskan hartanya.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ  إِنَّ نَاسًا مِنْ الْأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ حَتَّى نَفِدَ مَا عِنْدَهُ فَقَالَ مَا يَكُونُ عِنْدِي مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ

Dari Abu Sa’id al-Khudri ra: Ada beberapa orang Anshar yang meminta kepada Rasulullah saw lalu beliau pun memberi kepada mereka. Kemudian ada yang meminta lagi, beliau memberi lagi. Kemudian ada yang meminta lagi, dan beliau pun memberi lagi hingga habis apa yang beliu miliki. Saat itu beliau bersabda: “Harta yang ada padaku tidak mungkin aku sembunyikan dari kalian.” (Shahih al-Bukhari kitab az-zakat bab al-isti’faf ‘anil-mas`alah no. 1469; Shahih Muslim kitab az-zakat bab fadllit-ta’affuf was-shabr no. 2471).

Maka dari itu ‘Aisyah ra menyebutkan bahwa ketika wafat beliau masih menggadaikan baju besinya kepada seorang Yahudi untuk 30 sha’ gandum sya’ir keperluan makan keluarganya (Shahih al-Bukhari bab ma qila fi dir’in-Nabiy saw no. 2916). Padahal di sisi lain, Nabi saw sanggup memberi nafkah sampai satu tahun lamanya (Shahih Muslim bab hukmil-fai` no. 4674). Menurut Imam an-Nawawi itu karena seringkali beliau rela memberi kepada orang-orang yang lebih membutuhkan sampai menghabiskan apa yang beliau miliki. Dan untuk keperluan keluarganya sendiri, beliau rela menggadaikan apa yang beliau miliki terlebih dahulu (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab hukmil-fai`. Keterangan lengkapnya bisa dirujuk: https://attaubah-institute.com/nabi-%ef%b7%ba-dermawan-sampai-berutang/).

Abu Dzar ra menceritakan bahwa Nabi saw pernah berterus terang kepadanya:

مَا يَسُرُّنِي أَنَّ عِنْدِي مِثْلَ أُحُدٍ هَذَا ذَهَبًا تَمْضِي عَلَيَّ ثَالِثَةٌ وَعِنْدِي مِنْهُ دِينَارٌ إِلَّا شَيْئًا أَرْصُدُهُ لِدَيْنٍ إِلَّا أَنْ أَقُولَ بِهِ فِي عِبَادِ اللَّهِ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَمِنْ خَلْفِهِ ثُمَّ مَشَى فَقَالَ إِنَّ الْأَكْثَرِينَ هُمْ الْأَقَلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ قَالَ هَكَذَا وَهَكَذَا وَهَكَذَا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ وَمِنْ خَلْفِهِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ

“Aku tidak bahagia andai aku punya emas banyak sebesar Uhud ini lalu tersimpan di rumahku sampai tiga hari meski itu tinggal hanya sekeping dinar, kecuali yang aku sisakan untuk membayar utang, melainkan aku akan bagikan kepada hamba-hamba Allah seperti ini, ini, dan ini—sambil berisyarat ke arah kanan, kiri dan belakang.” Kemudian beliau berjalan lagi dan bersabda: “Sesungguhnya orang yang paling banyak hartanya (di dunia) adalah orang yang paling sedikit hartanya pada hari kiamat, kecuali mereka yang membagikannya seperti ini, ini, dan ini— sambil berisyarat ke arah kanan, kiri dan belakang. Tetapi sungguh sedikit mereka yang seperti itu.” (Shahih al-Bukhari bab qaulin-Nabi saw ma uhibbu li anna li mitsla Uhud dzahaban no. 6444).

Secara khusus kepada Ahlus-Shuffah, Nabi saw memberikan perhatian lebih lagi. Abu Hurairah ra menjelaskan:

وَأَهْلُ الصُّفَّةِ أَضْيَافُ الْإِسْلَامِ لَا يَأْوُونَ إِلَى أَهْلٍ وَلَا مَالٍ وَلَا عَلَى أَحَدٍ إِذَا أَتَتْهُ صَدَقَةٌ بَعَثَ بِهَا إِلَيْهِمْ وَلَمْ يَتَنَاوَلْ مِنْهَا شَيْئًا وَإِذَا أَتَتْهُ هَدِيَّةٌ أَرْسَلَ إِلَيْهِمْ وَأَصَابَ مِنْهَا وَأَشْرَكَهُمْ فِيهَا

Ahlus-Shuffah adalah tamu-tamu Islam yang tidak memiliki rumah, harta, tidak pula seorang pun keluarga/teman. Apabila ada shadaqah datang kepada beliau, beliau selalu mengirimkannya kepada mereka dan tidak mengambilnya sedikit pun. Tetapi apabila yang datang kepada beliau hadiah, beliau pun selalu mengirimkannya untuk mereka, tetapi setelah mengambilnya sedikit, dan kemudian berbagi sama dengan mereka (Shahih al-Bukhari bab kaifa kana ‘aisyun-Nabiy saw wa ashhabihi ra wa takhallihim minad-dunya no. 6452).

Ketika Fathimah ra tahu bahwa Nabi saw mendapatkan bagian hamba sahaya banyak dari ghanimah perang dan kemudian ia dan ‘Ali ra meminta satu untuk dijadikan pembantu, Nabi saw malah menjawab:

وَاَللَّه لَا أُعْطِيكُمَا وَأَدَع أَهْل الصُّفَّة تُطْوَى بُطُونهمْ لَا أَجِد مَا أُنْفِق عَلَيْهِمْ وَلَكِنِّي أَبِيعهُمْ وَأُنْفِق عَلَيْهِمْ أَثْمَانهمْ

Demi Allah, aku tidak akan memberi kalian berdua sementara aku membiarkan Ahlus-Shuffah dalam keadaan perut kosong dan aku tidak punya sesuatu yang bisa aku nafkahkan kepada mereka. Maaf, aku akan jual para tawanan perang itu dan aku akan infaqkan hasilnya kepada Ahlus-Shuffah (Musnad Ahmad bab musnad ‘Ali ibn Abi Thalib no. 838).

Abdurrahman putra Abu Bakar ra menceritakan:

أَنَّ أَصْحَابَ الصُّفَّةِ كَانُوا أُنَاسًا فُقَرَاءَ وَأَنَّ النَّبِيَّ قَالَ مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ وَإِنْ أَرْبَعٌ فَخَامِسٌ أَوْ سَادِسٌ وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ جَاءَ بِثَلَاثَةٍ فَانْطَلَقَ النَّبِيُّ بِعَشَرَةٍ

Dari ‘Abdurrahman ibn Abi Bakar: Penghuni Shuffah adalah orang-orang faqir. Nabi saw bersabda: “Siapa yang memiliki makanan untuk dua orang, maka pergi dan bawalah orang yang ketiga. Jika empat, maka ambillah yang kelima atau keenam.” Abu Bakar membawa tiga orang, sedangkan Nabi saw membawa 10 orang (Shahih al-Bukhari bab as-samar ma’al-ahl wad-dlaif no. 602).

Dalam kesempatan lain, Nabi saw sering menganjurkan:

طَعَامُ الِاثْنَيْنِ كَافِي الثَّلَاثَةِ وَطَعَامُ الثَّلَاثَةِ كَافِي الْأَرْبَعَةِ

Makanan untuk dua orang harus cukup untuk tiga orang. Makanan untuk tiga orang harus cukup untuk empat orang (Shahih al-Bukhari bab tha’amul-wahid yakfil-itsnain no. 5392; Shahih Muslim bab fadllil-muwasah no. 5488).

طَعَامُ الْوَاحِدِ يَكْفِى الاِثْنَيْنِ وَطَعَامُ الاِثْنَيْنِ يَكْفِى الأَرْبَعَةَ وَطَعَامُ الأَرْبَعَةِ يَكْفِى الثَّمَانِيَةَ

Makanan untuk satu orang harus cukup untuk dua orang. Makanan untuk dua orang harus cukup untuk empat orang. Makanan untuk empat orang harus cukup untuk delapan orang (Shahih Muslim bab fadllil-muwasah fit-tha’amil-qalil no. 5489).

Intinya ada perhatian besar dari Nabi saw untuk keperluan makan Ahlus-Shuffah dan kaum miskin lainnya. Sampai selalu disediakan anggaran khusus untuk memenuhi kebutuhan makan mereka dari ghanimah yang menjadi hak beliau sendiri. Artinya memberi makan kepada Ahlus-Shuffah dan kaum miskin lainnya ini sudah menjadi rutinitas berbagi Nabi saw karena memang kebutuhan makan adalah kebutuhan rutin setiap hari.

Jika umat Nabi saw tidak tergerak untuk rutin memberi makan kepada kaum miskin, apalagi yang seperti Ahlus-Shuffah yakni mereka yang mengabdikan dirinya di dunia keilmuan, maka itu pertanda masih ada dusta dalam agama mereka. Umatnya yang seperti ini belum layak disebutkan umat Nabi saw karena tidak meneladani akhlaq Nabi saw. Shalat mereka berarti masih sebatas pencitraan (sahun, yura`un) karena belum mampu menjadikan mereka yahudldlu ‘ala tha’amil-miskin dan malah tidak ada perhatian sama sekali untuk memberi bantuan (wa yamna’unal-ma’un). Na’udzu bil-‘Llah min dzalik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *