Nabi ﷺ Dermawan Sampai Berutang

Hadits-hadits yang menginformasikan bahwa Nabi ﷺ menggadaikan baju besinya untuk berutang makanan pokok keluarganya jangan dipahami bahwa beliau ﷺ miskin dan tidak cakap dalam menafkahi keluarga. Tidak perlu diragukan bahwa Nabi ﷺ orang kaya, buktinya beliau banyak berderma kepada siapapun. Hadits-hadits tersebut justru menginformasikan bahwa kedermawanan Nabi ﷺ sangat maksimal sampai berani menghabiskan hartanya demi berbagi kepada sesama, hingga untuk kebutuhan pokok keluarganya pun siap berutang terlebih dahulu.

Istri Nabi saw, ‘Aisyah ra, sendiri yang menginformasikan bahwa beliau saw pernah menggadaikan baju besinya untuk mendapatkan makanan pokok keluarganya:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَدِرْعُهُ مَرْهُونَةٌ عِنْدَ يَهُودِيٍّ بِثَلَاثِينَ صَاعًا مِنْ شَعِيرٍ

Dari ‘Aisyah rai a berkata: “Rasulullah saw wafat dan baju besinya digadaikan kepada seorang Yahudi untuk mendapatkan 30 sha’ gandum sya’ir.” (Shahih al-Bukhari bab ma qila fi dir’in-Nabiy saw no. 2916)

Hadits di atas tidak sama sekali menunjukkan bahwa Nabi saw pengangguran atau tidak cakap mengurus kebutuhan pokok keluarganya. Sebagaimana disabdakan Nabi saw dalam hadits lain:

إِنَّ اللَّه جَعَلَ رِزْقِي تَحْت ظِلّ رُمْحِي

Sesungguhnya Allah menjadikan rizkiku di bawah bayang-bayang tombakku ( [Riwayat Ahmad dengan status dla’if, tetapi dikuatkan oleh hadits mursal yang sanadnya hasan dalam riwayat Ibn Abi Syaibah. Fathul-Bari bab wa man yatawakkal ‘alal-‘Llah fa huwa hasbuhu]).

Maksudnya rizki Nabi saw ada dalam ghanimah dari jihad. Penghasilan utama beliau ada dalam jihad menaklukkan musuh-musuh Allah swt dan meraih ghanimah dari mereka. Jadi Nabi saw juga bekerja untuk keluarganya dan pekerjaan utama Nabi saw adalah jihad fi sabilillah. Al-Hafizh Ibn Hajar mengategorikan jihad fi sabilillah ini sebagai profesi paling mulia untuk dijadikan mata pencaharian melebihi kemuliaan berdagang, bertani, atau keahlian profesi, karena dengan jihad semakin nyata keunggulan Islam dan kemaslahatan umat yang tidak terlalu nyata dengan berdagang, bertani, atau keahlian profesi selain jihad (Fathul-Bari bab kasbir-rajul wa ‘amalihi bi yadihi).

Hasil pekerjaan Nabi saw di atas tentu saja Nabi saw sisihkan untuk nafkah keluarganya di samping untuk shadaqah fi sabilillah, sebagaimana dijelaskan oleh ‘Umar ra:

عَنْ عُمَرَ قَالَ كَانَتْ أَمْوَالُ بَنِى النَّضِيرِ مِمَّا أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِمَّا لَمْ يُوجِفْ عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ بِخَيْلٍ وَلاَ رِكَابٍ فَكَانَتْ لِلنَّبِىِّ ﷺ خَاصَّةً فَكَانَ يُنْفِقُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةَ سَنَةٍ وَمَا بَقِىَ يَجْعَلُهُ فِى الْكُرَاعِ وَالسِّلاَحِ عُدَّةً فِى سَبِيلِ اللَّهِ

Dari ‘Umar ra ia berkata: “Harta Bani Nadlir (Yahudi Madinah) termasuk fai (harta perang tanpa pertempuran) yang Allah berikan untuk Rasul-Nya karena termasuk yang kaum muslimin tidak mengerahkan kuda atau kendaraan lain (untuk berperang). Maka itu khusus bagi Nabi saw. Beliau menjadikannya untuk nafkah satu tahun keluarganya. Sementara sisanya beliau jadikan kendaraan dan senjata untuk perlengkapan perang fi sabilillah.” (Shahih Muslim bab hukmil-fai` no. 4674).

Akan tetapi karena kedermawanan Rasul saw dan keluarganya (sebagaimana juga diisyaratkan QS. al-Ahzab [33] : 53 dan hadits ‘Aisyah ra tentang ia memberikan satu butir kurma yang tersisa kepada peminta-minta) seringkali nafkah untuk satu tahun itu sudah habis sebelum waktunya. Dalam konteks itulah maka Nabi saw sampai berutang untuk memberi nafkah keluarganya lagi. Imam an-Nawawi dalam hal ini menjelaskan:

وَقَوْله: (يُنْفِق عَلَى أَهْله نَفَقَة سَنَة) أَيْ: يَعْزِل لَهُمْ نَفَقَة سَنَة، وَلَكِنَّهُ كَانَ يُنْفِقهُ قَبْل اِنْقِضَاء السَّنَة فِي وُجُوه الْخَيْر فَلَا تَتِمّ عَلَيْهِ السَّنَة، وَلِهَذَا تُوُفِّيَ ﷺ وَدِرْعه مَرْهُونَة عَلَى شَعِير اِسْتَدَانَهُ لِأَهْلِهِ، وَلَمْ يَشْبَع ثَلَاثَة أَيَّام تِبَاعًا، وَقَدْ تَظَاهَرَتْ الْأَحَادِيث الصَّحِيحَة بِكَثْرَةِ جُوعه ﷺ وَجُوع عِيَاله

Pernyataan: “Beliau menjadikannya untuk nafkah satu tahun keluarganya” yakni memisahkan untuk keluarganya nafkah untuk satu tahun. Akan tetapi beliau juga selalu menginfaqkannya sebelum habis satu tahun dalam berbagai kebaikan sehingga tidak pernah tersisa sampai akhir tahun. Maka dari itu beliau saw wafat dengan baju besi yang tergadai untuk gandum sya’ir yang beliau pinjam untuk makan keluarganya. Beliau juga belum pernah kenyang selama tiga hari berturut-turut. Hadits-hadits shahih sungguh sangat jelas menginformasikan seringnya Nabi saw lapar demikian juga keluarganya (Syarah an-Nawawi Shahih Muslim bab hukmil-fai`).

Semua itu disebabkan Nabi saw dan keluarganya sangat dermawan. Kedermawanan yang di luar batas hingga beliau sering memilih lapar demi mendahulukan umatnya terberi makanan. Beliau juga rela sampai berutang untuk memberi makan keluarganya karena mendahulukan umatnya mendapatkan makanan. Salah satu potret dari kesanggupan Nabi saw menahan lapar demi umatnya diceritakan dalam hadits Abu Hurairah ra bahwa beliau pernah keluar malam-malam karena lapar. Pada waktu itu beliau berpapasan dengan Abu Bakar dan ‘Umar ra. Beliau bertanya kepada mereka berdua:

فَقَالَ مَا أَخْرَجَكُمَا مِنْ بُيُوتِكُمَا هَذِهِ السَّاعَةَ. قَالاَ الْجُوعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ وَأَنَا وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لأَخْرَجَنِى الَّذِى أَخْرَجَكُمَا قُومُوا. فَقَامُوا مَعَهُ فَأَتَى رَجُلاً مِنَ الأَنْصَارِ

Beliau bertanya: “Apa yang menyebabkan kalian berdua keluar dari rumah pada waktu malam begini?” Mereka menjawab: “Karena lapar wahai Rasulullah.” Beliau menjawab: “Aku pun demi Zat yang diriku di tangan-Nya, sungguh yang menyebabkanku keluar sama dengan kalian. Berdirilah kalian.” Maka mereka pun berangkat bersama beliau dan datang kepada seorang shahabat Anshar (Shahih Muslim bab jawazi-stitba’ihi ghairahu ila dari man yatsiqu no. 5434).

Imam an-Nawawi dalam kitab Syarahnya menjelaskan, ini dikarenakan Nabi saw dan dua shahabat terbaiknya itu telah mempraktikkan akhlaq mulia kedermawanan tanpa batas. Bukannya umat Islam yang abai kepada para pemimpin mereka, melainkan karena akhlaq Nabi saw dan dua shahabat tersebut yang terlalu luhur banyak berderma sehingga disangka selalu memiliki harta dan tidak pernah mengeluh atau bahkan meminta. Kalaupun terdesak harus meminta makanan, sebagaimana isyarat dari Imam Muslim di atas dalam tarjamah-nya, pasti ditujukan ke seorang shahabat yang diyakini memiliki makanan yang cukup dan akan berbahagia seandainya kedatangan Nabi saw atau dua shahabatnya.

Imam an-Nawawi memberikan catatan khusus:

فَكَانَ النَّبِيّ ﷺ فِي وَقْت يُوسَر، ثُمَّ بَعْد قَلِيل يَنْفَد مَا عِنْده لِإِخْرَاجِهِ فِي طَاعَة اللَّه مِنْ وُجُوه الْبِرّ وَإِيثَار الْمُحْتَاجِينَ وَضِيَافَة الطَّارِقِينَ وَتَجْهِيز السَّرَايَا وَغَيْر ذَلِكَ. وَهَكَذَا كَانَ خُلُق صَاحِبَيْهِ رَضِيَ اللَّه عَنْهُمَا بَلْ أَكْثَر أَصْحَابه، وَكَانَ أَهْل الْيَسَار مِنْ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَار رَضِيَ اللَّه عَنْهُمْ مَعَ بِرّهمْ لَهُ ﷺ وَإِكْرَامهمْ إِيَّاهُ وَإِتْحَافه بِالطُّرَفِ وَغَيْرهَا، رُبَّمَا لَمْ يَعْرِفُوا حَاجَته فِي بَعْض الْأَحْيَان لِكَوْنِهِمْ لَا يَعْرِفُونَ فَرَاغ مَا كَانَ عِنْده مِنْ الْقُوت بِإِيثَارِهِ بِهِ

Nabi saw pada suatu waktu ada kalanya dimudahkan rizkinya. Tetapi tidak lama dari itu beliau menghabiskannya dengan mendermakannya karena ketaatan kepada Allah dengan berbagai bentuk kebaikan, mendahulukan orang lain yang lebih membutuhkan, menjamu para pendatang, memberi bekal kepada pasukan perang, dan selain itu. Demikian juga akhlaq dua shahabatnya ra tersebut, bahkan akhlaq mayoritas shahabatnya. Orang-orang kaya dari Muhajirin dan Anshar ra memang sangat baik kepada Rasulullah saw, memuliakannya, dan sering mengistimewakan beliau dalam pemberian, tetapi mereka juga sering tidak tahu bahwa makanan Rasulullah saw sudah habis akibat Rasul saw yang selalu banyak berderma mendahulukan orang lain di banding diri beliau (Syarah Shahih Muslim bab jawazi-stitba’ihi ghairahu ila dari man yatsiqu).

Jangan salah sangka bahwa gaya hidup Nabi saw dan para shahabat yang sampai berutang akibat terlalu dermawan seperti itu menyengsarakan. Yang benar justru sangat berbahagia. Allah swt sudah memaklumatkan:

… وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمۡ حَاجَةٗ مِّمَّآ أُوتُواْ وَيُؤۡثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمۡ وَلَوۡ كَانَ بِهِمۡ خَصَاصَةٞۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفۡسِهِۦ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

…mereka mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada orang lain; dan mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang berbahagia (QS. al-Hasyr [59] : 9).

Leave a Reply

Your email address will not be published.